Blog ini dibuat oleh Andi Wibowo, guru bahasa dan sastra Indonesia Madrasah Aliyah Nurus Sunnah sebagai media pembelajaran yang berisi penyampaian materi dan soal-soal latihan. Semoga hadirnya blog ini dapat memotivasi kita untuk terus belajar dan tidak bosan belajar. Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Selamat Belajar! Baarokallahu fiik.

Senin, 27 April 2020

Majas Pertentangan dalam Puisi


Majas pertentangan merupakan gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kias yang bertentangan dengan maksud asli yang penulis curahkan dalam kalimat tersebut. Jenis ini dapat dibagi menjadi beberapa subjenis, yakni sebagai berikut.

1. Litotes
Berkebalikan dengan hiperbola yang lebih ke arah perbandingan, litotes merupakan ungkapan untuk merendahkan diri (lebih tepatnya rendah hati), meskipun kenyataan yang sebenarnya adalah yang sebaliknya.
Contoh: Selamat datang ke gubuk kami ini.
Gubuk memiliki artian sebagai rumah.

2. Paradoks
Yaitu membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi yang berkebalikannya
Contoh: Di tengah ramainya pesta tahun baru, aku merasa kesepian.

3. Antitesis
Yaitu memadukan pasangan kata yang artinya bertentangan.
Contoh: Film tersebut disukai oleh tua-muda.

4. Kontradiksi Interminis
Gaya bahasa yang menyangkal ujaran yang telah dipaparkan sebelumnya. Biasanya diikuti dengan konjungsi, seperti kecuali atau hanya saja.
Contoh: Semua masyarakat semakin sejahtera, kecuali mereka yang berada di perbatasan.

Majas Sindiran
Majas sindiran merupakan kata-kata kias yang memang tujuannya untuk menyindir seseorang ataupun perilaku dan kondisi. Jenis ini terbagi menjadi tiga subjenis, yaitu sebagai berikut.

1. Ironi
Yaitu menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan fakta yang ada.
Contoh: Rapi sekali kamarmu sampai sulit untuk mencari bagian kasur yang bisa ditiduri.

2. Sinisme
Yaitu menyampaikan sindiran secara langsung.
Contoh: Suaramu keras sekali sampai telingaku berdenging dan sakit.

3.Sarkasme
Yaitu menyampaikan sindiran secara kasar.
Contoh: Kamu hanya sampah masyarakat tahu!



Kontributor
Teodora Nirmala Fau, S.Hum.
Alumnus Program Studi Bahasa Indonesia UI
disalin dari https://www.studiobelajar.com/majas-pengertian-jenis-contoh/

LATIHAN 
Kerjakanlah soal-soal latihan pilihan ganda beriut ini dengan mengeklik gambar di bawah ini!
https://forms.gle/hDhGsijCuiRNSJrW9

Minggu, 26 April 2020

Daftar Pustaka: Tata Cara Penulisan


DAFTAR PUSTAKA-Dalam penulisan suatu karya ilmiah, kita dituntut untuk menyajikan informasi dengan disertai sumber yang benar. Tuntutan menyajikan informasi dengan sumber yang benar itulah yang membuat penulisan daftar pustaka dibutuhkan bahkan diwajibkan. Nah, dalam kiriman ini, akan dibahas tentang cara menulis sumber kutipan dan daftar pustaka, serta contohnya!
Daftar pustaka yaitu daftar yang berisi tentang semua buku atau tulisan yang dijadikan acuan atau landasan dalam penelitian. Ada beberapa manfaat pencantuman daftar pustaka atau catatan kaki, baik bagi penulis, pembaca atau penyumbang data/sumber yang diambil, yaitu:
1. memenuhi etika penulisan;
2. sebagai ucapan terima kasih penulis kepada penyumbang data;
3. sebagai pendukung ide seorang penulis karena biasanya sumber yang diambil ditulis oleh pakar yang terkenal;
4. sebagai petunjuk untuk melacak kebenaran data yang diambil;
5. sebagai referensi silang, yaitu menunjukkan pada halaman atau bagian mana data itu diambil.

Tujuan penulisan sumber kutipan dan daftar pustaka:
1. Agar terhindar dari tuduhan penjiplakan (plagiarism)
Salah satu fungsi kutipan adalah untuk menguatkan atau mendukung tulisan ilmiah Anda. Oleh karena itu, Anda harus mencantumkan sumber kutipan Anda secara singkat di bagian akhir setelah kalimat kutipan atau tepat sebelum kalimat kutipan (paling dekat dengan kalimat kutipan) dan menuliskan sumbernya secara lengkap pada daftar pustaka. Dengan melakukan ini sebenarnya Anda sedang menghindarkan diri dari masalah di kemudian hari terkait dengan mengambil hak cipta karya tulis seseorang tanpa ijin.
2. Menghargai penulis sebelumnya
Ketika Anda menuliskan secara lengkap sumber kutipan dan daftar pustaka, sebenarnya Anda sedang menghargai orang yang mempunyai ide tersebut. Selain itu, juga pengakuan bahwa teks pada bagian tersebut adalah dari ide, argumen, dan atau analisa orang lain.
3. Membantu pembaca yang ingin tahu lebih dalam mengenai sumber kutipan
Salah satu manfaat dari menuliskan sumber kutipan dan daftar pustaka secara lengkap adalah membantu pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kutipan tersebut. Kadang-kadang pembaca tertarik untuk membaca lebih dalam tulisan yang Anda kutip. Dengan demikian, pembaca dapat menelusuri informasi dari sumber kutipan dan kemudian mendapatkan rincian lengkapnya pada daftar pustaka.

A. Penulisan Daftar Pustaka dari Sumber Buku
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis daftar pustaka dari sumber buku. Namun, hal paling utama adalah memperhatikan urutan dan tanda bacanya. Berikut adalah urutan sebuah referensi dari buku.
1. Nama
Nama penulis ditulis paling awal. Ingatlah untuk selalu menuliskan nama belakang penulis terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan tanda koma (,) setelah itu cantumkan nama depan dan tengah penulis buku tersebut. Jika buku tersebut merupakan karya dari dua penulis atau lebih, hanya penulis pertama yang urutan namanya dibalik. Penulis kedua dan seterusnya berada setelahnya dengan urutan yang sesuai nama aslinya. Jika pada buku tersebut nama penulis dicantumkan lengkap dengan gelar pendidikan atau gelar lain, gelar-gelar tersebut tidak perlu dituliskan.
Jika dalam buku yang diacu itu tercantum nama editor, penulisannya dilakukan dengan menambahkan singkatan (Ed.).
Contoh:
• Mahaso, Ode (Ed.). 1997.
Jika pengarang terdiri dari dua atau tiga orang, nama pengarang dituliskan semuanya dengan ketentuan nama orang pertama dibalik sedangkan nama orang kedua dan ketiga tetap. Di antara kedua nama pengarang itu digunakan kata penghubung “dan”.
Contoh:
• Sumardjan, Selo dan Marta Susilo.
• Kusmadi, Ismail. Dini A., dan Eva R.
Jika lebih dari tiga orang, ditulis nama pengarang pertama yang dibalik lalu ditambahkan singkatan “dkk” (dan kawan-kawan) atau et all.
Contoh:
• Kartika, Salma dkk.
• Susan, Alberta et. all.
Jika beberapa buku ditulis oleh seorang pengarang, nama pengarang cukup ditulis sekali pada buku yang disebut pertama. Selanjutnya cukup dibuat garis sepanjang 10 ketukan dan diakhiri dengan tanda titik. Setelah nama penga-rang, cantumkan tahun terbit dengan dibubuhkan tanda titik. Jika tahunnya berbeda, penyusunan daftar pustaka dilakukan dengan urutan berdasarkan yang paling lama ke yang paling baru.
Contoh:
• Keraf, Gorys. 1979.
• _________ . 1982.
• _________ . 1984.
Jika diterbitkan pada tahun yang sama, penempatan urutannya berdasarkan pola abjad judul buku. Kriteria pembedaannya adalah setelah tahun terbit dibubuhkan huruf, misalnya a, b, c tanpa jarak.
Contoh:
• Bakri, Oemar. 1987a.
• __________ . 1987b.
2. Tahun Terbit
Setelah nama, cantumkan tahun terbit dari buku yang teman-teman gunakan sebagai referensi. Jangan terkecoh pada angka tahun cetakan awal sebab bisa saja buku yang kamu pakai merupakan cetakan kedua, ketiga, ataupun terakhir.
3. Judul Buku
Tuliskan judul bukumu secara lengkap. Jangan lupa, penulisan judul dibuat dengan italic (miring).
4. Kota dan Nama Penerbit
Bagian terakhir dalam penulisan daftar pustaka sebuah buku adalah mencantumkan kota penerbitan dan nama penerbit yang mencetak buku tersebut. Dahulukan penulisan nama kota, baru diikuti dengan nama penerbit yang dibatasi dengan tanda titik dua (:).
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tanda batas dari tiap urutan. Pastikan teman-teman menggunakan tanda titik (.) untuk membatasi urutan nama, tahun terbit, judul buku, hingga kota dan nama penerbit.

Contoh Daftar Pustaka dari Buku
Data Buku:
Judul : Family Medical Care Volume 4
Penulis : Dr. John F. Knight
Penerbit : Indonesia Publishing House
Kota Penerbit : Bandung
Tahun Terbit : 2001
Cara Penulisan:
Knight, John F. 2001. Family Medical Care Volume 4. Bandung: Indonesia Publishing House.

B. Penulisan Daftar Pustaka dari Artikel dalam Jurnal, Koran, atau Majalah
Tidak berbeda jauh dengan penulisan dari sumber berupa buku, teman-teman pun perlu mencantumkan nama penulis, tahun terbit, judul artikel, hingga kota dan nama penerbit. Hanya saja, ada perbedaan penulisan untuk beberapa urutan tersebut, yakni sebagai berikut.
1. Nama
Pastikan nama yang teman-teman tulis dalam daftar pustaka artikel tersebut adalah penulis artikelnya, bukan editor dari jurnal, koran, ataupun majalah yang menjadi sumber referensi.
2. Judul
Dahulukan penulisan judul artikel yang menjadi sumber referensi. Penulisan tidak dengan format italic, melainkan tegak lurus dengan pemberian tanda kutip (“) pembuka dan penutup. Setelah itu, lanjutkan dengan penulisan sumber jurnal ataupun majalah yang memuat artikel tersebut. Penulisan nama jurnal, majalah, atau koran baru dicetak miring. Ikutkan di halaman berapa artikel tersebut dimuat yang ditulis dalam tanda kurung [(…)].

Contoh Penulisan Daftar Pustaka dari Artikel Jurnal
Data Artikel:
Judul Jurnal : Sirok Bastra: Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan Volume 1
Judul Artikel : Bahasa Indonesia dalam Informasi dan Iklan di Ruang Publik Kota Pangkalpinang
Penulis : Umar Solikhan
Penerbit : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kota Terbit : Pangkalpinang
Tahun Terbit : 2013
Cara Penulisan:
Solikhan, Umar. 2013. “Bahasa Indonesia dalam Informasi dan Iklan di Ruang Publik Kota Pangkalpinang” dalam Sirok Bastra: Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan Volume 1 (hlm. 123-129). Pangkalpinang: Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Contoh Jika Majalah sebagai Acuan
Jika majalah menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut:
  • nama pengarang,
  • tahun terbit,
  • judul artikel,
  • judul majalah,
  • bulan terbit (kalau ada),
  • tahun terbitan yang keberapa (kalau ada),
  • tempat terbit.
Contoh:
Nasution, Anwar. 1975. “Sistem Moneter Internasional”. Dalam Prisma, Desember, IV. Jakarta.
Paranggi, Umbu Landu. 2006. “Puisi: Bagian Terpenting dari Darah Hidupku” dalam Horison Majalah Sastra. Jakarta: PT Metro Pos.

Contoh Jika Surat Kabar sebagai Acuan
Jika surat kabar menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut:
  • nama pengarang,
  • tahun terbit,
  • judul artikel,
  • judul surat kabar,
  • tanggal terbit, dan
  • tempat terbit.
Contoh:
Tabah, Anton. 1984. “Polwan semakin efektif dalam Penegakan Hukum”. Dalam Sinar Harapan, 1 September 1984. Jakarta.

Contoh Jika Antologi sebagai Sumber Acuan
Jika antologi menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut:
  • nama pengarang,
  • tahun terbit karangan,
  • judul karangan,
  • nama penghimpun (Ed.),
  • tahun terbit antologi,
  • judul antologi,
  • tempat terbit, dan
  • nama penerbit.
Contoh:
Kartodirjo, Sartono. 1977. “Metode Penggunaan Dokumen”. Dalam Koentjaraningrat (Ed.). 1980. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Demikianlah cara penulisan sumber kutipan dan daftar pustaka serta contoh-contohnya. Semoga cara penulisan dan contoh-contoh daftar pustaka di atas dapat membantu para penulis dan calon penulis dalam proses menulis buku, sehingga proses penulisan dapat lebih cepat dan mudah.

Sumber dari: Sally Azaria, S.Sos., M.PPO. (Dosen pada Departemen Mata Kuliah Umum Universitas Kristen Petra)

LATIHAN 
Kerjakanlah soal-soal latihan pilihan ganda berikut ini dengan mengeklik gambar di bawah ini!
https://forms.gle/F9HbrF3hcY2KDbLw5

Minggu, 19 April 2020

Memuliakan Tetangga

Simaklah video berikut ini dengan saksama!
LATIHAN
klik di sini untuk mengerjakan soal latihan!

ULASAN TUGAS TERBAIK MENYUSUN LATAR BELAKANG KARYA ILMIAH



Latar Belakang Karya Ilmiah 
Topik : Sejarah Berdirinya Masjid Nabawi Madinah Almunawaroh
Oleh : Najla Afifah Ramadhani /09

Masjid adalah rumah tempat ibadah umat Islam atau Muslim. Sebagai agama dengan pemeluk terbanyak di dunia,  masjid-masjid pun banyak terdapat di seluruh belahan dunia. Dari sekian banyak masjid yang telah dibangun umat Islam, terdapat beberapa masjid yang memiliki keutamaan lebih yang telah disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW. Masjid-masjid tersebut adalah Masjid Nabawi,  Masjid Al-Aqsa dan Masjidil Haram. 

Sebagai umat Muslim,  kita sudah seharusnya tahu sejarah dari masjid-masjid tersebut terutama Masjid Nabawi karena keutamaannya yang telah disebut nabi sebagai "Masjidku". Agama Islam merupakan agama dengan pemeluk terbanyak di dunia. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita sebagai umat Muslim untuk tahu atau bahkan hafal dengan sejarah Islam. Tetapi,  kenyataan saat ini berkata lain.  Umat Muslim saat ini kurang mengetahui perihal sejarah dari agama mereka saat ini. Mereka menguasai sejarah dunia dengan lengkap, tetapi untuk sejarah agama mereka sendiri mereka terlupa.

Untuk mengatasi masalah ini, penulis memutuskan untuk melakukan penulisan karya ilmiah tentang sejarah berdirinya Masjid Nabawi. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dan menambah pengetahuan umat Islam saat ini adalah menambah literatur pengetahuan Islam. Dengan adanya karya ilmiah sejarah berdirinya Masjid Nabawi ini,  diharapkan umat Muslim mengetahui dan tertambah wawasannya mengenai seluk-beluk sejarah berdirinya masjid nabi


PERBAIKAN (SETELAH DISUNTING)

            Masjid adalah tempat ibadah bagi umat Islam. Dari sekian banyak masjid yang telah dibangun umat Islam, terdapat beberapa masjid yang memiliki keistimewaan dan keutamaan dibanding masjid-masjid kaum muslimin pada umumnya. Masjid-masjid yang memiliki keistimewaan dan keutamaan tersebut, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Alaqsha.

            Sebagai umat Muslim,  kita sudah seharusnya mengetahui sejarah masjid-masjid tersebut, terutama Masjid Nabawi karena keutamaannya yang telah disabdakan oleh Rasululullah SAW sebagai "Masjidku". Namun, sangat disayangkan, saat ini sebagian dari kaum muslimin kurang mengetahui perihal sejarah dari agama mereka, salah satunya sejarah tentang Masjid Nabawi. Mereka mempelajari dan menguasai sejarah dunia dengan lengkap, tetapi kurang perhatian terhadap sejarah Islam, seperti sejarah tentang berdirinya Masjid Nabawi. Padahal, apabila kita mau mengkaji tentang sejarah berdirinya Masjid Nabawi ini, akan memperoleh begitu banyak faidah yang bermanfaat bagi diri si penulis juga bagi umat Islam pada umumnya.

            Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan  menambah literatur pengetahuan Islam melalui penyusunan karya ilmiah.  Oleh karena itulah, penulis merasa perlu untuk menyusun karya ilmiah dengan judul Sejarah Berdirinya Masjid Nabawi. Penulis berharap, karya ilmiah ini mampu memberikan banyak manfaat bagi para pembaca, khususnya kaum muslimin, juga dapat menumbuhkan semangat mempelajari warisan peradaban Islam, sejarah Islam, dan memperoleh banyak hikmah (faidah) dari sejarah berdirinya Masjid Nabawi.


Simpulan Pembelajaran Penyusunan Latar Belakang Karya Ilmiah

1. Struktur latar belakang harus lengkap dan runtut.
2. Harus menjelaskan tentang permasalahan saat ini dan kesenjangannya terhadap kondisi ideal yang diharapkan, serta menyampaikan argumen yang didukung dengan data dan fakta.
3. Wajib menggunakan kalimat efektif bahasa Indonesia.
4. Harus menggunakan diksi yang tepat.
5. Menggunakan kosakata dengan makna yang lugas (bukan konotatif)
6. Paragraf yang baik adalah yang tidak mengandung kalimat sumbang. Maksudnya, antarkalimat harus saling berkaitan dan mendukung gagasan utama.

LATIHAN
Kerjakanlah soal-soal pilihan ganda berikut ini sebagai murojaah terhadap materi proposal dan karya ilmiah dengan mengeklik gambar di bawah ini!
https://forms.gle/83PGjWmGViFDvmHMA